Langsung ke konten utama

NU DULU DAN NU SEKARANG (KH. Muchith Muzadi)

 


Tulisan yang menarik, mengambil cerita dari (Allah Yarhamhu) KH Muchit Muzadi. 


Abdul Muchith Muzadi, murid langsung Hadlratus-Syaykh KH. Hasyim Asy’ari, yg pernah menjadi sekertaris Rais Amm KH. Ahmad Siddiq, yg juga merupakan kakak kandung KH. Hasyim Muzadi, siang ini hadir dalam acara Sarasehan Ulama dan Cendekiawan di Pesantren Mahasiswa al-Hikam, Depok. Beliau yg diberi kesempatan berbicara sebentar di forum yg dihadiri oleh 34 PWNU seluruh Indonesia itu menuturkan beberapa hal menarik sebagai berikut:


Saya itu sudah menyandang berbagai jabatan di NU. Sekarang ini saya menjadi anggota Mustasyar PBNU. Nah, biasanya di NU itu kalau orang sudah di-mustasyarkan berarti sudah tidak terpakai lagi… Dan tugas mustasyar itu memberi nasehat. Eh, sekarang kalau ketemu Syuriah atau Tanfidziyah, malah saya yg dinasehati… Hahaha.


Desember ini insya Allah umur saya 90 tahun. Lha kemarin waktu di pesawat pramugarinya bertanya: “Ada urusan apa, kok mau sampai repot2 ke Jakarta, pak?!” Saya jawab: “Ada urusan di Jakarta.” Tentu kalau saya terangkan “NU”, dia gak paham. Tapi dalam hati saya bilang, saya ke Jakarta karena ada suatu urusan yg saya ada di dalamnya, yaitu Nahdlatul Ulama!”


Saya menjadi anggota NU sejak tahun 1941. Proses pendaftaran menjadi anggota tidak mudah karena harus mengajukan permohonan ke Pengurus Ranting. Pengajuan tersebut kemudian dibahas di kepengurusan NU tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC), Cabang, Wilayah hingga diterima oleh Pengurus Besar. Jadi dari sejak awal mendaftar hingga diterima sebagai anggota prosesnya lama, kira2 3-4 bulanan.


Sebelum diterima sebagai anggota, pendaftar akan dipanggil dan diwawancarai oleh Pengurus Ranting. Saya dulu kebetulan dipanggil oleh Pengurus Ranting Tebu Ireng. Singkat cerita, akhirnya saya diterima sebagai anggota NU dan diberi kartu anggota yg ditandatangani oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, selaku Pengurus Besar. Kenapa kok harus mendaftar? Ya, karena supaya bisa dilihat, apakah orang itu pengen betul jadi NU atau tidak?! Kalau sekarang, orang mudah saja ngaku NU. Bahkan kadang gak ditanya saja, sudah pada ngaku NU sendiri, hehe.


Saya sendiri pernah bertanya kepada KH. Ahmad Siddiq: “Kok bisa jadi Rois Amm itu, sampeyan (menjadi anggota NU) dari Ranting mana?” Beliau menjawab: “Sampeyan pertanyaannya kok aneh2. Pokoknya saya itu Rois Amm. Lha, sampeyan mengakui apa tidak?!” Hehe. Ya, tentu saya mengakui (beliau sebagai Rois Amm). Bagaimana mungkin saya tidak mengakui, lha wong NU se-Indonesia saja mengakui beliau, tapi ya gimana ya…???


Jadi menurut saya, masuk NU itu sulit dan tidak gampang. Dan setelah masuk, lebih sulit lagi, karena setiap bulan harus membayar iuran menjadi anggota 25 sen, dan iuran bulanan sebesar 10 sen. 10 sen itu kalau menurut nilai kurs sekarang kira2 sama dengan gula 2 kg, atau sebesar 20 ribu rupiah…


Belum lagi setiap bulan harus ikut kumpul laylatul-ijtima’, alias night club. Hehe. Lho iya, kan. Night itu malam, club itu kumpulan… Kalau gak ikut, nanti dicatat. Nah sekarang, gak usah pakai iuran, dan gak ikut laylatul-ijtima’ segala… Itulah bedanya NU dulu dan NU sekarang… Jadi ketika saya tahu masuk NU itu tidak gampang, maka setelah masuk pun saya ingin berbuat yg baik untuk NU.


Dulu sebagai anggota NU, setiap orang ada harganya. Nggak peduli jabatannya di luar apa: apa itu lurah, atau apa. Tapi kalau sudah jadi anggota NU, ya harus manut dg Pengurus Ranting NU. Pengurus Ranting juga harus tahu siapa saja anggotanya. Anggota juga harus tahu siapa yg menjadi Pengurus Rantingnya. Kalau pengurus dan anggota Ranting sudah saling mengenal, tentu akan semakin mudah dalam memperbaiki dan mengembangkan NU. Kalau tidak, ya bagaimana mungkin?! Inilah yg seharusnya didandani (dibenahi).


 


Yg sekarang terjadi, mencari pengurus yg baca AD/ART NU saja sudah merupakan barang langka. Sebelum menjadi pengurus, semua orang pengennya ndandani NU. Padahal, bagaimana mungkin pengurus bisa ndandani NU, bila dia tidak membaca AD/ART NU?!

Demikian halnya, bagaimana mungkin seseorang menjadi anggota NU, jika dia sendiri tidak tahu bedanya menjadi anggota NU dan bukan anggota NU. Maksudnya, sebagai anggota, seseorang mestinya tahu kewajiban2nya sebagai anggota NU, melebihi orang2 yg belum NU, atau yg hanya merasa dirinya NU


Penulis: Hilmy Muhammad


https://sandalsantri.wordpress.com/2014/10/21/nu-dulu-dan-nu-sekarang/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab

Oleh: KH. Imron Mutamakkin Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah. Berikut pendapat-pendapat para ulama madzhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab. Madzhab Hanafi Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (...

Hukum Sunah Ruqyah Pada Orang yang Sakit

  SELEKTIF MEMILIH PENGOBATAN ALTERNATIF Islam memang menghalalkan praktik ruqyah (pengobatan alternatif dengan bacaan-bacaan yang diperbolehkan oleh syariat). Imam Muslim dalam kitabnya, Sahîh Muslim, mengumpulkan beberapa hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah melakukan ruqyah dalam satu bab berjudul, “Bab Menerangkan Hukum Sunah Ruqyah Pada Orang yang Sakit.” Salah satu hadis yang disebutkan oleh beliau adalah hadis yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah (no. 2191): كاَنَ رُسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا اشْتَكَى مِنَّا إِنْسَانٌ مَسَحَهُ بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ قَالَ أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً “Ketika ada salah satu orang yang mengeluh sakit, Rasulullah mengusap orang itu dengan tangan kanannya dan bekata, ‘Wahai Tuhan umat manusia, hilangkanlah penyakit dia. Sembuhkanlah, karena hanya engkau Dzat yang bisa menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali dari-Mu, kesembuhan...

Kisah Pesantren yang Batal Dibakar karena Foto Gus Dur

Di Papua sini komunitas muslim sangat minoritas. Sebetulnya banyak kelompok Islam baru yang bermunculan, namun berhaluan keras. Sehingga masyarakat asli merasa terusik dan tentu tidak begitu tertarik. Sumber:https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3749282815094492&id=383755138313960 Karena itulah ketika kami membangun Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (PPMQ) di Papua Barat, mereka mengira bahwa kami sama dengan komunitas muslim garis keras yang tidak simpatik kepada orang Papua dan juga adat Papua. Berkat pertolongan Allah, alhamdulillah lama-kelamaan mereka mengetahui siapa kami dan bahkan mau belajar Al-Quran kepada kami, yang hanya penjual ayam ini. . Saya tidak punya ilmu Al-Quran sebaik dan sepandai sahabat-sahabat santri lain. Saya hanya bisa alif ba', ta'. Namun semua aktivitas mengajar Qur'an kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasihat Romo Kiai Yusuf Masyhar. . Awal berdiri, semua menolak kehadiran PPMQ Al-Qalam. Bahkan dari pihak lintas gereja pun meno...